ANTIHISTAMIN I (Turunan Kolamin dan Turunan Etilendiamin)
Histamin
adalah mediator kimia yang dikeluarkan pada fenomena alergi. Penderita yang
sensitif terhadap histamin atau mudah terkena alergi disebabkan jumlah
enzim-enzim yang dapat merusak histamin di tubuh, seperti histaminase dan
diamino oksidase, lebih rendah dari normal. Histamin tidak digunakan untuk
pengobatan, garam fisfatnya digunakan untuk mengetahui berkurangnya sekresi
asam lambung, untuk diagnosis karsinoma lambung dan untuk kontrol positif pada
uji alergi kulit (Siswandono, 2016)
Alergen
dapat bermacam-macam, mulai dari bulu hewan, makanan tertentu, hingga debu.
Sistem imun tubuh melihat alergen sebagai ancaman dan mengeluarkan histamin,
sehingga pada akhirnya menimbulkan reaksi alergi. Reaksi alergi yang kita alami
dapat berupa gatal-gatal, bersin, atau mengeluarkan air mata.
Antihistamin
merupakan obat yang sering dipakai dibidang dermatologi, terutama untuk
kelainan kronik dan rekuren. Antihistamin adalah zat yang dapat mengurangi
atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok
reseptor histamin. Antihistamin dan histamin berlomba untuk menempati reseptor
yang sama (Sari dan Yenny, 2018).
Antihistamin penghambat
reseptor H1 (AH-1)
AH-1 dibagi menjadi :
Ø AH-1
generasi pertama, disebut juga AH-1 tradisional karena sudah cukup dikenal
cukup lama dalam pengobatan.
Ø AH-1
generasi kedua, disebut juga AH-1 nonsedasi, karena tidak menembus sawar darah
otak sehingga tidak memberikan efek sedasi
Ø Antihistamin
generasi 1
·
Sifat
-
Molekul kecil
-
Lipofilik
-
Tidak spesifik terhadap res. H1
-
Diabsorbsi dengan baik di saluran cerna
-
T1/2 : 3-4 jam
-
Distribusi luas dapat melintasi BBB
-
Cepat termetabolisme
-
Mempunyai efek sedatif
Contoh obat :
-
Etolamin (difenhidramine, dimenhidrinat)
-
Etilendiamin (tripelenamine, antazoline)
-
Alkilamin (klorfeniramine)
-
Piperazin (siklizin)
Ø Antihistamin
generasi 2
·
Sifat
-
Modifikasi dari gen-1 untuk mengurangi
efek samping
-
Lebih selektif terhadap reseptor H1
-
Onset relatif lebih cepat
-
T1/2 relatif lebih lama
-
Anak-anak memetabolisme lebih cepat
Contoh :
-
Terfenadine
-
Loratadine
-
Cetirizine
-
Mizolastine
-
Astemizole
Mekanisme
kerja antihistamin
Antihistamin
bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Zat histamin,
pada dasarnya berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika
histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada
orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia
ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya
bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap
mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk
ke tubuh.
Farmakologis
Semua
AH-1 memiliki efek farmakologia dan teraupetik yang serupa, dengan mengahmbat
histamin secara kompetitif pada reseptor H-1. AH-1 menghambat efek histamin
pada pembuluh darah, bronkus, dan berbagai macam otot polos. AH-1 juga
bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang
disertai pelepasan histamin endogen berlebihan.
Khasiat
utama yang digarapkan dari antihistamin H1biasanya lebih lama dari penurunan
kadar dalam plasma yang karena adanya antihistamin di jaringan atau adanya
hasil metabolit yang aktif.
Farmakokinetik
Pada
pemberian oral AH-1 tradisional umumnya mulai timbul efek dalam waktu 15-30
menit, efek maksimal sekitar 1 jam, dan efek bertahan selama 4-24 jam. Pemberian
intramuskular atau intravena mempunyai pemberian intravena secara cepat dapat
menyebabkan hipotensi. Beberapa AH-1 mempunyai masa kerja lebih panjang, misal
klorfeniramin yang mencapai lebih dari 20 jam, sehingga dapat diberikan 1 atau
2 kali sehari. Waktu paruh eliminasi prometazin berkisar 10-24 jam. Waktu paruh
dalam serum anak-anak lebih singkat sehingga perlu diberikan 2-3 kali sehari.
AH-1 tradisional didistribusikan ke seluruh tubuh, umunya melewati sawar
darah-otak dan plasenta, serta dapat dieksresi melalui air susu ibu.
Obat-obat
tersebut dimetabolit di hati sehingga penggunaan obat ini pada penyakit hati
berat akan menimbulkan akumulasi. AH-1 menginduksi enzim mikrosomal hepatik,
sehingga mempercepat metabolismenya sendiri. Metabolisme terjadi melalui sistem
cytrochrome P-450 di hepar. Waktu paruh ini akan memanjang pada penderita yang
lebih tua atau penderita dengan sirosis hepar atau penderita yang mendapat obat
microsomal oxygenase inhibitor seperti ketoconazole.
Indikasi
Klinis
-
Reaksi alergi
-
Alergi akut dengan rhinitis
-
Urtikaria
-
Dermatitis
Efek
samping obat :
Terjadi pada 15-25%
pasien yang diberi antihistamin, dengan derajat intensitas yang berbeda tiap
individu, antara lain :
-
Depresi
-
Hipotensi
-
Dermatitis
-
Efek antikolnergik
-
Keracunan
TURUNAN
ETILENDIAMIN
Etilendiamin
merupakan suatu senyawa yang termasuk
golongan amina yang memiliki struktur molekul seperti berikut :
Rumus
umum ; Ar(Ar’)N-CH2-CH2-N(CH3)2
Merupakan
antagonis H1 dengan keefektifan yang cukup tinggi, meskipun penekan system
saraf dan iritasi lambung cukup besar. Etilendiamin mempunyai efek samping
penekanan CNS dan gastro intestinal. Antihistamin tipe piperazin,
imidazolin dan fenotiazin mengandung bagian etilendiamin.
Berikut beberapa struktur
senyawa etilendiamin :
(Cartika,
2016).
Contoh:
1.
Tripelenamin HCl (azaron,Tripel),mempunyai
efek antihistamin sebanding difenhidramin dengan efek samping lebih
rendah.Tripelenamin juga digunakan untuk pemakaian setempat karena mempunyai
efek anastesi setempat.Efektif untuk pengobatn gejala alergi kulit,seperti pruritis
dan urtikaria kronik.
2.
Antazolin HCl (Antistine) mempunyai
aktivitas antihistamin lebih rendah dibanding turunan etilendiamin lain.
Antazoin mempunyai efek antikolinergik dan lebih banyak digunakan untuk
pemakain setempat dua kali lebih besar dibanding prokain HCl.Dosis untuk
obat mata : larutan 0,5%
3.
Mebhidrolinnafadisilat (Incidal,Histapan),Stukturnya
mengandung rantai samping amenopropi dalam system heterosiklik karbonil dan
bersifat kaku. Senyawa tidak menimbulkan efek analgesic dan anestesi setempat.
Mehibdrolin digunakan untuk pengobatan gejala pada alergi dermal,seperti
dermatitis dan ekzem,konjugtivitas,dan asma bronkial. Penyerapan obat dalam
saluran cerna relatif lambat,kadar plasma tetinggi dicapai setelah ± 2 jam dan
menurun secara bertahap sampai 8 jam.
Farmakodinamik
Etilendiamin
-
Mempunyai dua gugus N
-
Potensi maksimal jika memiliki dua
cincin aromatik yang tidak terletak pada bidang yang sama monosubstitusi dengan
gugus yang memiliki efek induktif pada posisi para pada cincin aromatik akan
meningkatkan aktivitas
-
Disubstitusikan pada posisi para akan
menurunkan aktivitas
-
Substitusi pada posisi para atau meta
akan menurunkan aktivitas
TURUNAN
KOLAMIN (ETER AMINO ALKIL)
Turunan
eter aminoalkil yang pertama kali digunakan sebagai antagonis-H1 adalah
difenhidramin. Studi hubungan kualitaitif turunan defenhidramin oleh Kutter dan
Hansch menunjukkan bahwa sifat lipofilik dan sterik mempengaruhi
aktivitas antihistamin dan pengaruh sifat sterik lebih dominan dibanding sifat
lipofilik
Pemasukan
gugus Cl, Br, dan OCH3 pada posisi cincin aromatik akan meningkatkan
aktivitas dan menurunkan efek samping. Pemasukan gugus CH3 pada posisi
cincin aromatik juga dapat meningkatkan aktivitas tetapi pemasukan pada posisi
O- akan menghilangkan efek antagonis H1 dan akan meningkatkan aktivitas
antikolinergik. Dengan adanya O- dapat meningkatkan keelektronegatifan sehingga
afinitas senyawa obat juga menigkat.
Senyawa
turunan eter aminoalkil mempunyai aktivitas antikolinergik yang cukup bermakna
karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol yang merupakan suatu
senyawa pemblok kolinergik.
Berikut adalah struktur
senyawa turunan eter amino alkil :
(Cartika,
2016).
Contoh senyawa turunan
eter amino alkil :
1. Difenhidramin HCl,
merupakan antihistamin kuat yang mempunyai efek sedative dan antikolonergik
2. Dimenhidrinat,
adalah garam yang terbentuk dari difenhidramin dan 8- kloroteofilin.
3. Karbinoksamin
maleat, mengandung satu atom C asimetrik yang mengikat 2 cincin aromatik.
4. Klemasetin fumarat,
merupakan antagonis H1 kuat dengan masa kerja panjang.
5. Pipirinhidrinat
digunakan terutama untuk pengobatan rhinitis, alergi konjungtivitis dan demam
karena alergi.
Pertanyaan :
1.
Pengobatan penyakit alergik dengan cara
menghambat inflamasi yang diduga disebabkan peningkatan aktivitas NF-κB sedang
dipikirkan oleh beberapa peneliti. Mengapa aktivitas NF-kB dapat
mempengaruhinya?
2.
Bagaimana pola peresepan obat
antihistamin dan menilai ketepatan pemberian antihistamin berdasarkan ketepatan
dosis dan potensi interaksi obat?
1)
Terdapat 2 generasi dari antihistamin, apa perbedaan
dari keduanya?
2)
Untuk pasien yang sulit tidur apakah obat antihistamin
dapat membantu memberikan rasa kantuk?
3)
Antihistamin memiliki antagonis H1, H2, H3, dan H4.
Apa perbedaan dari keempat antagonis tersebut?
4)
Pelepasan histamin sendiri ada 2 macam, yaitu :
Daftar Pustaka
Cartika,
H. 2016. Kimia Farmasi, Jakarta :
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Sari,
F. dan S. W. Yenny. 2018. Antihistamin Terbaru di Bidang Dermatologi. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol. 7 (4) :
61-65.
Siswandoyo
dan B. Soekardjo. 2016. Kimia Medisinal Jilid
1 Edisi Kedua, Surabaya, Airlangga University Press.




Bermanfaat sekali ilmu nya
BalasHapusSemoga berguna ilmunya😊
HapusIzin membantu menjawab pertanyaan no 2 Antihistamin Generasi 1, H 1- antihistamin menembus ke dalam otak sehingga menyebabkan sedasi, mengantuk, kelelahan dan gangguan konsentrasi dan ingatan karena selektivitas reseptor buruk dan sering berinteraksi dengan
BalasHapusreseptor biologik amina lainnya yang menyebabkan efek antimuskarinik, anti-adrenergik, dan antiserotonin. yang menyebabkan
efek merugikan pada proses belajar pada anak-anak. Sedangkan Antihamine generasi 2 yang lebih baru lebih aman, tidak menembus BBB, efek sedasi kurang dan lebih berkhasiat. Tiga obat yang banyak digunakan untuk meringankan gejala pada urtikaria, desloratadine, levocetirizine dan fexofenadine. levocetirizine dapat menyebabkan somnolen pada individu yang rentan, sedangkan fexofenadine memiliki durasi aksi yang relatif singkat dan mungkin perlu diberikan dua kali sehari untuk semua perlindungan harian putaran. Meskipun desloratadine kurang manjur, namun memiliki kelebihan
jarang menyebabkan rasa somnolen dan memiliki durasi aksi yang lama.
Terima kasih atas jawabannya😊
HapusHaii, Dian aku bantu jawab yaa. Jadi pengelompokan antagonis H1, H2, H3 dan H4 itu berdasarkan ikatan antara histamin dan reseptor. Dimana setiap reseptor mempunyai fungsinya masing-masing yaitu:
BalasHapus- Pada reseptor H1, berperan dalam pelepasan mediator inflamasi, meningkatkan permeabilitas kapiler, kontraksi otot polos saluran cerna dan penarikan sel-sel inflamasi
- Pada reseptor H2, menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler
- Pada reseptor H3, berperan pada kontrol umpan balik negatif pada sintesis dan pelepasan histamin
- Pada reseptor H4, berfungsi sebagai kontrol reseptor H3
• Antagonis H1, cara kerjanya mengantagonis histamin pada reseptor H1 yang bersifat reversibel yaitu dengan menghambat kerja histamin pada reseptor H1 tetapi tidak memblok pelepasan histamin.
• Antagonis H2 memblok histamin yang terdapat pada reseptor H2 sehingga tidak menimbulkan rangsangan pada sel parietal yang dapat menyebabkan peningkatan sekresi asam lambung
• Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif
• Antagonis H4 memiliki khasiat sebagai imunomodulator (menstabilkan respon imun)
Terima kasih atas jawabannya😊
HapusTerimakasih ilmu nya,sangat bermanfaat dan lebih mudah dimengerti
BalasHapusSama sama😊
HapusTerimakasih,artikelnya sangat bermanfaat dan membantu sekali
BalasHapusSemoga bermanfaat😊
Hapusartikel yang menarik didukung dengan pemaparan materi yang cukup jelas
BalasHapusSemoga bermanfaat😊
HapusWah, menarik sekali. Terima kasih atas ilmunya. Semoga dapat bermanfaat bagi semua 😃
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat dan membantu ... Terimakasih ya :)
BalasHapusFarmasi keras ya bund
BalasHapusTerimakasih udah share ilmunya
BalasHapus-salam farmasi
Wahh materinya ringkas dan mudah dipahami, thanks dian sangat menambah wawasan 😊
BalasHapusHi dian, artikelnya bermanfaat banget aku mau bantu jawab pertanyaan no 2 ya,
BalasHapusAntihistamin H1 generasi pertama bekerja menurunkan pelepasan mediator dari sel mast dan basofil serta bekerja pada reseptor muskarinik, α-adrenergik, dan serotonin serta pada kanal ion jantung
Obat golongan antihistamin H1 (antagonis reseptor H1) generasi kedua merupakan inverse agonist yang bekerja dengan cara berikatan secara reversibel dengan reseptor histamin kemudian menstabilkan dan mempertahankannya dalam bentuk yang tidak aktif
Semoga bermanfaat ya🙏🏻
Terima kasih tasya atas jawabannya😊
HapusMantap kak, pemaparannya bgus.. jgn gengsi untuk slalu share materinya ya kak
BalasHapusTerimakasih infonya semoga berguna untuk semua
BalasHapusMantap kak
BalasHapusTerimakasih ilmunyaa sangat membantu
BalasHapusTerima kasih Dian, atas tulisan yang mampu memperkaya khasanah ilmu bagi pembaca.
BalasHapusSaya bantu menjawab petanyaan poin 1. Ya, beberapa antihistamin khususnya antagonis H1 generasi 1 bisa memberikan efek sedasi (kantuk) karena ia mampu menembus sawar darah otak dan berikatan dengan reseptor dalam otak, tapi perlu diingat bahwa efek kantuk bukanlah efek utama yang diharapkan dari antihistamin. Sesuai namanya yakni antihistamin ; merupakan obat digunakan untuk mengurangi gejala alergi.
Jadi, untuk mengetahui obat apakah yang aman mengatasi insomnia pasien, terlebih dahulu tanyalah apoteker supaya diberikan obat yang sesuai dengan tingkat keparahan insomnia pasien.
Terima kasih nurhaliza atas jawabannya☺️
HapusWah artinya bermanfaat sekali, terimakasih.
BalasHapusArtikelnya bermanfaat dan menarik untuk dibaca, sangat menambah pemahaman saya
BalasHapusMaterinya sangat bermanfaat kak,terima kasih ilmu barunya
BalasHapusIzin menjawab no 4 ya,
BalasHapusAda 2 macam yaitu :
1. Antigen-mediated histamine release
Histamin dilepaskan karena terdapat interaksi antara antibodi dengan antigen. Hal ini mengakitbatkan degranulasi dari mass cell dan basophil.
2. Non-antigen-mediated histamine release
Selain dilepaskan karena adanya respon imunologis, histamin juga dapat dilepaskan karena obat, racun, atau senyawa2 lain yg dapat mengganggu bahkan merusak dinding sel dan memancing pelepasan histamin. Atau bisa juga diakibatkan suhu atau rangsangan mekanis lain.
Waahhh rincii sekali kakak:))
BalasHapusMau nanya dong:)) hehe
Untuk penatalaksanaan antihistamine pd anak² bagaimana yaa:))
Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapus