HEMATOLOGI I (Pembekuan Darah dan Anti Koagulansia)
HEMATOLOGI
Hematologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang marfologi darah dan jaringan pembentuk darah. Salah
satu contoh penyakit yang berhubungan dengan kekurangan darah adalah Anemia.
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan
kadar hemoglobin dan hematokrit hingga di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935).
Dengan
demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit, melainkan
merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh dan
perubahan patofisiologis yang mendasar yang diuraikan melalui anamnesa yang
seksama, pemeriksaan fisik, dan informasi laboratorium. Penyebab tersering dari
anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit,
antara lain: besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat
dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, penyakit kronik,
keracunan obat, dan lain-lain. Batas bawah dari nilai normal untuk wanita dan
laki – laki dewasa berbeda yaitu:
1. Untuk laki – laki
dewasa: 13,0 gr/dl.
2. Untuk wanita
dewasa: 11,5 gr/dl.
KOAGULASI
(PEMBEKUAN DARAH)
Koagulasi
(penggumpalan) adalah proses dimana perubahan darah dari cairan gel.
Ini berpotensi menghasilkan hemostasis, penghentian kehilangan darah dari pembuluh yangrusak,
diikuti dengan perbaikan. Koagulansia merupakan zat atau obat untuk
menghentikan pendarahan. Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara
oral maupun parenteral. Obat ini berguna untuk menekan atau menghentikan
perdarahan. Yaitu dengan mempercepat perubahan protombin menjadi thrombin dan
secara langsung mengumpalkan fibrinogen. Misalnya: Anaroxil, Adona AC,
Coagulen, Transamin, vitamin K.
Mekanisme
koagulasi melibatkan aktivasi, adhesi, danagregasi trombosit bersama dengan
deposisi dan pematangan fibrin. Gangguan koagulasiadalah negara penyakit yang
dapat mengakibatkan perdarahan (perdarahan atau memar) atau pembekuan
obstruktif (trombosis).
Proses
pembekuan darah berlangsung melalui beberapa tahap:
1.
Aktivasi tromboplastin
2.
Pembentukan trombin dari protrombin dan
3.
Pembentukan fibrin dari fibrinogen.
Dalam
proses ini diperlukan faktor-faktor pembekuan darah dan dikenal ada 12
faktor pembekuan darah. Aktivasi tromboplastin, yang akan mengubah protrombin (faktor II)menjadi
trombin (faktor IIa), melalui 2 mekanisme yaitu mekanisme ekstrinsik dan
intrinsik. Pada mekanisme ekstrinsik, tromboplastin jaringan (faktor III,
berasal dari jaringan rusak)akan bereaksi dengan faktor VII yang dengan adanya
kalsium (faktor IV) akan mengaktifkan faktor X2.
Sediaan
Koagulasi
a. Sediaan Oral
Sediaan
yang banyak digunakan dan murah ialah hidrat sulfas ferosus (FeSO4.7 H2O) 300
mg yang mengandung 20% Fe. Untuk anemia berat biasanya diberikan 3 x 300 mg
Sulfas Ferosus sehari selama 6 bulan. Dalam hal ini mula-mula absorpsi berjumlah
± 45 mg/hari, dan setelah depot Fe terpenuhi, dosis diturunkan menjadi 5–10
mg/hari. Berbeda dengan Fero Sulfat, Fero Fumarat tidak mudah mengalami
oksidasi pada udara lembap; dosis efektifnya 600–800 mg/hari adalah dosis
terbagi.
b. Sediaan
Parenteral
Iron-dekstran
(imferon) mengandung 50 mg Fe setiap ml-nya (larutan 5%) untuk penggunaan intra
muskular (IM) atau intra vena (IV). Total yang diperlukan dihitung berdasarkan
tingkat kekurangan Hbnya, yaitu 250 mg Fe untuk setiap gram kekurangan Hb.
Untuk memperkecil reaksi toksik pada pemberian IV, dosis permulaan tidak boleh
melebihi 25 mg, dan dengan peningkatan bertahap untuk 2–3 hari sampai mencapai
dosis 100 mg/hari. Obat harus diberikan perlahan-lahan yaitu dengan
menyuntikkan 20–50 mg/menit.
ANTIKOAGULAN
Antikoagulan
dapat digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat
pembentukan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah. Atas dasar
ini antikongulan diperlukan untuk mencegah terbentuk dan meluasnya trombus dan
emboli, maupun untuk mencegah bekunya darah di luar tubuh pada pemeriksaan
laboratorium atau tranfusi.
Sediaan Antikoagulansia
Vitamin
B12 diindikasikan untuk penderita defisiensi vitamin B12 misalnya
anemia pernisiosa. Vitamin B12 tersedia dalam bentuk tablet untuk
pemberian oral dan larutan untuk suntik. Penggunaan sediaan oral pada pengobatan
anemia pernisiosa kurang bermanfaat dan biasanya terapi oral lebih mahal dari
pada terapi pariteral. Tetapi sediaan oral dapat bermanfaat sebagai supplement
diet, namun kecil manfaatnya untuk penderita yang kekurangan faktor intrinsik
atau penderita dengan penyakit pada ileum, karena absorbsi secara difusi tidak
dapat diandalkan sebagai terapi efektif. Maka cara pemberian yang terbaik
adalah secara IM atau SK.
Dikenal
tiga jenis suntikan vitamin B12 yaitu:
(1)
Sianokobalamin yang berkekuatan 10-1000 ncg/ml
(2)
Larutan ekstrak hati dalam air
(3)
Suntikan depot vitamin B12.
Suntikan
larutan sianokobalamin jarang sekali menyebabkan reaksi alergi dan iritasi di
tempat suntikan, adapun manfaat larutan ekstrak hati terhadap anemia pernisiosa
di sebabkan oleh vitamin B12 yang terkandung di dalamnya penggunaan
suntikan ekstrak hati ini dapat menimbulkan reaksi alergi lokal maupun umum,
dan dari yang ringan sampai berat. Dosis cyanokobalamin untuk penderita anemia
pernisiosa tergantung dari berat anemianya, ada tidaknya komplikasi dan respon terhadap
pengobatan.
Pada
terapi awal, di berikan dosis 100 mcg sehari parenteral selama 5-10 hari.
Dengan terapi ini respon hematologi baik sekali, tetapi respon depot kurang
memuaskan terdapat keadaan yang menghambat hematopoesis misalnya, infeksi,
urenia atau penggunaan kloramfenikol. Respon yang buruk dengan dosis 100
mcg/hari selama 10 hari, mungkin juga disebabkan oleh salah diagnosis atau
potensi obat yang kurang.
Terapi
penunjang, dilakukan dengan memberikan dosis penunjang 100-200 mcg/bulan sampai
diperoleh remisi yang lengkap yaitu jumlah eritrosit dalam darah ± 4,5 juta/mm3 dan
morfologi hematologik berada dalam batas-batas normal.
Jenis
Obat Antikoagulansia
Antikoagulan
terbagi ke dalam empat golongan. Pembagian ini berdasarkan fungsinya dalam
menghambat fungsi protein yang berperan dalam proses penggumpalan darah.
Keempat golongan tersebut adalah:
1.
Warfarin, yaitu jenis obat antikoagulan
coumarin yang bekerja dengan menghambat kerja vitamin K di dalam darah
2.
Penghambat faktor Xa, yaitu jenis obat
antikoagulan yang bekerja dengan menghambat kerja faktor Xa
3.
Penghambat thrombin, yaitu golongan obat
antikoagulan yang berfungsi mencegah aktivasi thrombin
4.
Heparin, yaitu jenis obat antikoagulan
yang berperan dalam menghambat thrombin dan faktor Xa
Jenis,
Merek Dagang, dan Dosis Antikoagulan
Dosis
antikoagulan tergantung pada jenis dan bentuk obat, serta usia dan kondisi
pasien. Beberapa diantaranya adalah : Warfarin, heparin, fondafarinux,
rivaroxaban.
Warfarin
Bentuk sediaan: tablet
Merek dagang: Warfarin,
Simarc, Rheoxen, Notisil
Kondisi: pengobatan dan
pencegahan deep vein thrombosis (DVT)
Dewasa: dosis awal adalah 5–10 mg, sekali sehari. Dosis pemeliharaan 3–9 mg per
hari.
Farmakologi
Warfarin secara umum
bekerja sebagai penghambat faktor koagulasi tergantung vitamin K seperti faktor
II, VII, IX, X, dan antikoagulan protein C dan S.
Farmakodinamik
Efek antikoagulan dari
warfarin berasal dari inhibisi interkonversi siklik vitamin K di liver. Bentuk
vitamin K yang tereduksi dibutuhkan untuk karboksilasi faktor II, VII, IX, dan
X sehingga faktor-faktor koagulasi ini menjadi bentuk aktif. Maka, tanpa
vitamin K tereduksi, faktor-faktor di atas tidak dapat berfungsi sebagai faktor
koagulan. Warfarin mengintervensi konversi vitamin K menjadi bentuk yang
tereduksi, sehingga warfarin secara tidak langsung mengurangi jumlah
faktor-faktor koagulasi tersebut. Dosis terapeutik warfarin mengurangi jumlah
faktor koagulan bentuk aktif tergantung vitamin K yang diproduksi oleh liver
mencapai hingga 30%-50%.
Farmakokinetik
Aspek farmakokinetik
warfarin terdiri dari aspek absorpsi, distribusi, metabolism, dan eliminasinya.
Absorpsi
Warfarin diabsorpsi
melalui rute oral dan membutuhkan waktu 4 jam untuk mencapai konsentrasi
puncak. Warfarin di absorpsi secara cepat dan komplit. Efek antikoagulasi
terjadi dalam 24 jam hingga 72 jam setelah administrasi, waktu puncak efek
terapeutik terlihat dalam 5-7 hari setelah terapi inisiasi. Namun, hasil INR
sudah ditemukan meningkat dalam 36-72 jam setelah terapi inisiasi. Hal ini
terjadi pada terapi inisiasi serta perubahan dosis warfarin karena masih
bervariasinya waktu paruh faktor koagulasi yang beredar dalam sirkulasi darah.
Durasi satu dosis warfarin dapat bertahan hingga 2-5 hari. [3,4,11,12]
Distribusi
Volume distribusi
warfarin adalah 0,14 liter/kg. Warfarin tidak didistribusikan ke dalam air
susu. Protein binding 99%.
Metabolisme
Warfarin terdiri dari
isomer S dan R yang dimetabolisme di liver oleh enzim mikrosomal hepatik
(sitokrom P-450) menjadi metabolit inaktif terhidroksilasi dan metabolit
tereduksi. Isomer S memiliki potensi efek yang lebih tinggi dari isomer R.
Isomer S dimetabolisme oleh enzim CYP2C9 dan isomer R dimetabolisme oleh
CYP1A2. Metabolit ini diekskresikan melalui urine, dan dalam jumlah sedikit
diekskresikan melalui cairan empedu.
Eliminasi
Ekskresi warfarin
paling utama lewat urine oleh filtrasi glomerular dalam bentuk metabolit (92%)
dan hanya sedikit yang dieksresikan dalam bentuk tidak diubah. Waktu paruh
warfarin efektif berkisar 20-60 jam, dengan rata-rata 40 jam.
Resistensi
Resistensi warfarin
dibedakan menjadi 2 jenis: inkomplit dan komplit.
1. Resistensi
Inkomplit
Pasien
resistensi inkomplit hanya dapat mencapai efek terapeutik warfarin dengan
pemberian dosis tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh variasi genetik VKORC1, di
mana beberapa jenis enzim ini memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk
berikatan dengan warfarin. Berkurangnya enzim VKORC1 yang berikatan dengan
warfarin menyebabkan resistensi inkomplit dan dibutuhkan dosis yang lebih
tinggi agar dapat menginhibisi VKORC1 untuk mencapai efek terapeutik.
2. Resistensi
Komplit
Apabila
warfarin tidak dapat berikatan sama sekali dengan VKORC1, kejadian ini disebut
dengan resistensi komplit. Individu dengan resistensi komplit tidak akan
merespons dengan warfarin meskipun sudah diberikan dosis tinggi.
Pertanyaan
1. Warfarin adalah jenis obat yang memiliki isomer R dan S. Isomer S memiliki potensi efek yang lebih tinggi dari isomer R. Kenapa isomer S memiliki efek yang lebih tinggi?
2. Apa uji bidang farmasi yang dilakukan pada tes hematologi?
3. Apa
yang harus dilakukan apabila pasien alergi terhadap antikoagulan warfarin?
4. Bagaimana
profil penggunaan antikoagulan pada pasien kardiovaskular?
Daftar Pustaka
Zahroh,
R. Z. dan Istiroha. 2019. Asuhan Keperawatan Pada Kasus Hematologi, Surabaya,
Jakat Publishing.
Kee, J.L. dan Hayes, E.R.1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC.
Terimakasih saya jadi tau tentang penggumpalan darah, sangat bermanfaat
BalasHapusSemoga membantu🙏🏻
HapusTerimakasih, artikelnya sangat membantu sekali
BalasHapusSemoga bermanfaat🙏🏻
HapusTerima kasih atas ilmunya, izin membahas permasalahan nomor 3. Pasien yg alergi terhadap penggunaan warfarin tentu sangat tidak dianjurkan dalam penggunaannya. Tentunya pada saat pemeriksaan dgn dokter, maka pasien harus menyampaikan adanya reaksi alergi yg muncul setelah penggunaan obat ini. Apakah kemudian dpt digunakan antikoagulan jenis lain seperti heparin yg bekerja pada antithrombin III, atau yg lain.
BalasHapusTerima kasih Ikhsan atas jawabannya
Hapushai dian, saya ingin membantu menjawab pertanyaan no 4 ya, berdasarkan jurnal yang saya dapatkan publikasi Directory of Open Access Journals yang ditulis oleh Gusti Ayu, dkk yang berjudul "Profil Penggunaan Antikoagulan Pada Pasien Kardiovaskular yang Dirawat Diruang ICCU RSUP Sanglah Periode Januari 2016-Juni 2016" disebutkan bahwa berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa dari 85 pasien yang memenuhi kriteria, 55 orang diantara menggunakan antikoagulan (64,7%) dan 30 orang tidak menggunakan antikoagulan (35,3%) dengan karakteristik subyek pasien kardiovaskular mayoritas dengan jumlah 40 (72,7%), usia 65-74 tahun dengan jumlah 17 subyek (30,9%), dan merupakan pasien infark miokard dengan jumlah subyek 22 (40%).
BalasHapusJenis antikoagulan terbanyak yang digunakan pada pasien kardiovaskular dalam penelitian yang telah dilakukan ini adalah menggunakan enoxaparin dengan 36 subyek (60%). Penggunaan dosis antikoagulan pada penelitian yang telah dilakukan sesuai dengan penggunaan dosis antikoagulan oleh ACC/ACCP, dengan reratadosis penggunaan enoxaparin adalah 1,06 ml/hari.
semoga membantu ya :)
Terima kasih Tasya atas jawabannya
HapusHalo Dian, artikelnya menarik sekali
BalasHapusSaya bantu jawab nomor 1 ya, menurut hasil penelitian oleh Tuntin dan Rahayu (2019), menunjukkan korelasi yang sangat lemah dan hubungan yang tidak signifikan antara siklus menstruasi dengan profil hematologi (jumlah lekosit, jumlah trombosit, jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan kadar hematokrit). Responden yang mengalami siklus menstruasi yang panjang ada 2 siswi (2,9%) yaitu lebih dari 32 hari. Sebagian besar responden mengalami siklus menstruasi yang normal, yaitu sebanyak 64,7%, dan 32,4% mengalami siklus menstruasi yang pendek. Walaupun hasil penelitian ini menunjukkan korelasi yang lemah dan hubungan yang tidak signifikan antara lama menstruasi dengan profil hematologi (jumlah lekosit, jumlah trombosit, jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan kadar hematokrit), tetapi dapat dijelaskan bahwa makin lama menstruasi maka makin sedikit jumlah lekosit dan makin rendah kadar hemoglobin, dan makin lama menstruasi maka makin banyak jumlah trombosit, jumlah eritrosit, dan kadar hematokrit yang hilang saat menstruasi. Hal ini seperti dijelaskan oleh Jones (2005) bahwa darah menstruasi mengandung darah vena dan arteri dengan sel-sel darah merah dalam hemolisis atau aglutinasi, sel-sel epitel.
Terima kasih ISatria atas jawabannya
HapusTerimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapusTerima kasih sudah berkunjung
Hapus