HEMATOLOGI II (FIBRINOLISIS DAN ANTIFIBRINOLITIKA)
Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang marfologi darah dan jaringan pembentuk darah. Salah satu contoh penyakit yang berhubungan dengan kekurangan darah adalah Anemia. Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit hingga di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935).
FIBRINOLISIS
Fibrinolisis
adalah kondisi hancurnya fibrin (salah satu agen pembeku darah yang diproduksi
dalam darah sebagai produk akhir koagulasi). Darah juga mengandung enzim
fibrinolitik yang berguna mencegah pembentukan gumpalan atau pembekuan darah
pada area yang tidak terluka, sehingga tidak akan menghalangi aliran darah, dan
juga enzim ini akan menghancurkan fibrin bila luka telah sembuh. Fibrinolisis merupakan
proses penghancuran deposit fibrin oleh sistem fibrinolitik sehingga aliran
darah akan terbuka kembali. Sistem fibrinolitik merupakan sistem enzim
mutikomponen yang menghasilkan pembentukan enzim aktif plasmin. Plasmin menyebabkan
degradasi fibrin, meningkatkan jumlah produk degradasi fibrin yang terlarut. Pada
fibrinolisis primer diduga disebabkan pembentukan plasmin yang berlebihan dalam
tubuh.
Sistem fibrinolitik
terdiri dari dari tiga komponen utama yaitu :
1.
Plasminogen
2.
Aktivator plasminogen
3.
Inhibitor plasmin
Aktivasi plasminogen
terjadi melalui 3 jalur yang berbeda yaitu :
1.
Jalur instrinsik
2.
Jalur ekstrinsik
3.
Jalur eksogen
Fungsi mekanisme
fibrinolisis :
1.
Pembatasan pembentukan fibrin didaerah
luka
2.
Penghancuran fibrin didalam sumbat
hemostatis
3.
Penyebab fibrinolisis yang diketahui
adalah :
4.
Infeksi bakteri
5.
Latihan terus menerus
6.
Kadar gula darah rendah (hipoglikemki)
7.
Kekurangan oksigen untuk jaringan
(hipoksia)
8.
Komplikasi kehamilan
9.
Setelah operasi
10.
Sirosis hepatis
11.
Uremia
Faktor-faktor yang
mempengaruhi fibrinolisis :
1.
Usia
2.
Merokok
3.
Aktivitas fisik
Perbedaan
fibrinolisis primer dan sekunder
Fibrinolisis sekunder
adalah pembentukan fibrin yang diikuti dengan proses penghancuran fibrin oleh
plasmin. Sedangkan fibrinolisis primer adalah proses penghancuran fibrinogen
oleh plasmin. Fibrinolisis primer atau fibrinogenolisis adalah proses penghancuran
fibrinogen. Hal ini merupakan akibat masuknya aktivator plasminogen ke dalam
darah secara berlebihan sehingga plasmin yang terbentuk melampaui kemampuan
antiplasmin untuk menetralkannya. Selain menghancurkan fibrinogen, plasmin juga
menghancurkan factor V dan VII. Akibat proses penghancuran tersebut, maka
terjadi penurunan kadar fibrinogen, faktor V dan VII serta peningkatan kadar
FDP.
Contoh obat golongan
fibrinolitik
Alteplase
Alteplase merupakan obat golongan
fibrinolitik atau trombolitik. Obat ini bekerja dengan cara
mengaktifkan plasminogen untuk memecah fibrin pada gumpalan darah.
Farmakodinamik
Alteplase adalah dengan cara mengaktifkan
fibrin-bound plasminogen (plasminogen yang terikat pada fibrin) menjadi plasmin
(enzim yang memecah bekuan darah).
Hal ini menyebabkan
terjadinya fibrinolisis dan terpecahnya trombus (bekuan fibrin).Kegunaan
Alteplase adalah untuk mengatasi pembekuan
darah di paru-paru. Alteplase juga digunakan untuk memperbaiki fungsi
jantung dan meningkatkan kualitas hidup setelah serangan
jantung.
Selain itu, digunakan
juga untuk membantu pemulihan dan mengurangi kecacatan pada pasien tertentu
yang pernah terkena stroke, seperti stroke trombogenik atau embolik, tetapi
dikontraindikasikan pada stroke
hemoragik.
Indikasi
Berikut ini adalah
beberapa kegunaan Alteplase :
A.Pengobatan trombolitik
pada infark miokard akut
B.Pengobatan
trombolitik pada emboli paru akut dengan ketidakstabilan hemodinamik
C.Pengobatan trombolitik
pada stroke iskemik akut
Kontraindikasi
·
Jangan digunakan untuk pasien yang
memiliki riwayat hipersensitif pada Alteplase.
·
Gangguan pendarahan (perdarahan aktif
atau riwayat perdarahan 6 bulan terakhir), stroke berat, diatesis hemorrhagic,
perdarahan intrakranial dan subarachnoid, aneurisma, riwayat kerusakan sistem
saraf pusat (misalnya neoplasma, cedera tulang
belakang), hipertensi yang tidak terkontrol, endokarditis bakteri,
perikarditis, pankreatitis akut, Penyakit saluran pencernaan (misalnya tukak lambung/ulcerative), varises
esofagus, operasi besar atau trauma signifikan pada 3 bulan
terakhir. Penggunaan kateter kaku.
·
Gangguan hati parah,
termasuk gagal hati, sirosis, hipertensi
portal dan hepatitis aktif.
Efek
samping Alteplase
Berikut adalah beberapa
efek samping Alteplase :
·
Efek samping yang umum adalah Hematoma
superfisial atau ekimosis, perdarahan gingiva, melaena, hematuria, hemoptisis,
dan epistaksis.
·
Efek samping yang lebih jarang misalnya
perdarahan mata dan perikardial, ruam, urtikaria, bronkospasme, angioedema, dan
pireksia.
Dosis
Alteplase
Alteplase diberikan
dengan dosis sebagai berikut :
A.Pasien infark
miocardial yang pengobatannya dapat dimulai dalam waktu 6 jam setelah onset
gejala :
·
Awalnya 15 mg bolus IV kemudian infus 50
mg IV selama 30 menit pertama, diikuti infus 35 mg selama 60 menit sampai
maksimal 100 mg.
·
Pasien <65 kg : Awalnya 15 mg IV
bolus & 0,75 mg / kg selama 30 menit (maksimal : 50 mg) diikuti dengan
infus 0,5 mg / kg selama 60 menit (maksimal : 35 mg).
·
Regimen dosis 3 jam : 10 mg bolus IV
kemudian infus 50 mg IV selama 1 jam, diikuti dengan infus 10 mg selama 30
menit sampai dosis maksimal 100 mg selama 3 jam. Maksimal : 1,5 mg / kg pada
pasien <65 kg.
Farmakokinetik
Absorbsi
-Mula kerja
Thrombolysis efek pada infark arteri koroner
biasanya terjadi <1 jam setelah mulai terapi. Lysis dari emboli pulmonal
biasanya terjadi antara 2-6 jam setelah mulai terapi.
Distribusi
Tidak diketahui apakah Alteplase menembus plasenta
atau terdistribusi ke dalam ASI
Metabolism
Pembersihan Alteplase umumnya dilakukan oleh hati, yang kemudian
melepaskan produk degradasi ke dalam darah
Eliminasi
Umumnya diekskresi melalui urin
Waktu Paro
Pasien dengan MI akut : rata-rata 4,6-5,6 menit
untuk fase distribusi awal,
rata-rata 39-53 menit untuk fase eliminasi terminal.
Pasien dengan penyakit thrombo-oklusif :
rata-rata 4,4 dan 26,5 menit untuk masing-masing waktu.
Populasi khusus
Waktu eliminasi paro semakin panjang pada penderita
dengan gangguan fungsi hati dan/atau aliran darah dari hati.
ANTIFIBRINOLITIKA
Antifibrinolitik
bekerja menghambat sistem fibrinolitik yang merupakan proses berkebalikan
dari koagulasi atau pembekuan darah. Contoh antifibrinolitika yang digunakan
adalah Asam traneksamat sebagai obat yang banyak digunakan dan tersedia di
Indonesia.
Struktur lisin, asam
traneksamat, dan asam ε-aminokaproat
Asam traneksamat sudah
lama beredar dan dimanfaatkan secara klinis. Obat ini pertama kali dipatenkan
pada tahun 1957 oleh Okamoto. Dilihat dari bentuk molekul, baik asam
traneksamat maupun asam ε-aminokaproat merupakan analog sintetis dari asam
amino lisin. Artinya secara struktur bentuknya mirip dengan lisin.
Asam trankesamat
sendiri merupakan sebuah molekul trans-stereoisomer dari asam
4-(aminometil)sikloheksan-karboksilat. Adapun berat molekul dari asam
traneksamat adalah 157. Sebagai analog lisin, asam traneksamat akan menempati binding
site lisin di plasmin dan menghalangi interaksi antara plasmin dengan
fibrin/fibrinogen. Ikatan asam traneksamat dengan fibrin ini 6 – 10 kali lebih
kuat dibandingkan dengan asam ε-aminokaproat.
Farmakodinamik
Asam Traneksamat
Diketahui fibrinolisis
diperankan terutama oleh plasmin. Plasmin mengenali residu lisin di fibrin dan
kemudian akan membelah fibrin menjadi fibrin degradation product (FDP).
Tempat plasmin atau plasminogen mengenali residu lisin ini dinamakan lysine
binding site.
Terdapat lima lysine
binding site pada plasminogen yaitu satu untuk setiap domain kringe (K1 –
K5) dari protein plasminogen. Adapun afinitas traneksamat pada tiap lysing
binding site tidaklah sama dimana terdapat satu lysine binding site dengan
afinitas tinggi (konstanta disosiasi [Kd] = 1,1 μmol/L) dan empat lainnya
memiliki afinitas yang rendah (Kd = 750 μmol/L). Inhibisi dari plasminogen
dapat tercapai dengan interaksi pada hanya satu lysine binding site dengan
afinitas tinggi.
Seperti disinggung di
atas, dengan struktur yang mirip lisin, maka asam traneksamat akan mengikat lysine
binding site. Dengan demikian, hal ini akan menghalangi ikatan plasmin dengan
fibrin. Akibatnya, proses pembelahan fibrin oleh plasmin akan dihambat. Oleh
sebab itu, asam traneksamat akan menghalangi proses lisis dari bekuan darah
oleh sistem
fibrinolitik.
Namun, lysine
binding site juga merupakan tempat interaksi plasmin dengan
α2-antiplasmin. Hal ini menyebabkan asam traneksamat juga akan menghalangi
kerja inhibitor dari plasmin ini. Selain plasmin, asam traneksamat juga
menghambat aktivasi tripsinogen oleh enterokinase dan secara lemah menghambat
trombin.
Pemberian topikal asam
trankesamat pada hewan ke susunan saraf pusat, obat ini dapat memicu kejang.
Kejadian kejang ini juga terjadi saat asam traneksamat tidak sengaja dimasukan
ke pasien secara intratekal.
Farmakokinetik
Asam Traneksamat
Konsenterasi maksimum
asam traneksamat dalam plasma dapat dicapai dalam jangka waktu 3 jam setelah
pemberian oral. Adanya makanan dalam sistem pencernaan tidak mempengaruh
absorpsi maupun parameter farmakokinetik lainnya dari obat.
|
Parameter (nilai
rerata) |
Puasa |
Setelah makan |
|
Cmax (mg/L) |
14,4 |
14,8 |
|
tmax (jam) |
2,8 |
2,9 |
|
AUC6 jam (mg/L . jam) |
59,5 |
61,3 |
|
AUC∞ (mg/L . jam) |
147,7* |
147,7* |
|
F (%) |
33,4 |
34,9 |
|
CLR (L/jam) |
8,2 |
7,9 |
|
Ae24 jam (mg) |
639 |
669 |
Data farmakokinetik,
dosis 1 g asam traneksamat diberikan ke individu sehat. * Rerata keseluruhan. Ae24
jam = jumlah ekskresi melalui urin dalam 24 jam; AUC = area under curve
konsenterasi plasma per waktu setelah pemberian obat; Cmax = konsenterasi
maksimal obat di plasma; CLR = bersihan ginjal; F = bioavailibilitas
sistemik; tmax = waktu untuk mencapai Cmax
Setelah injeks IV dari
1 g asam traneksmat, proses eliminasi mengikuti 3 fase eksponensial dengan 95%
obat diekskresikan tanpa perubahan di urin. Totak clearence sekitar 6,6 – 7
L/jam (110 – 116 mL/menit). Adapun total ekskresi urin dari segi kuantitas obat
adalah 959 mg/g. Dosis intravena 10 mg/kg berat badan didapat di urin pada saru
jam pertama pemberian IV. Ekskresi total naik sampai 45% setelah 3 jam dan
sekitar 90% setelah 24 jam.
Dengan konsenterasi
plasma 5 – 10 mg/L, asam traneksamat secara lemah (sekitar 3%) terikat ke
protein plasma dengan hampir sebagian besar obat terikat ke plasminogen. Obat
dapat menembus sawar darah otak dan berdifusi secara cepat ke cairan sendi dan
membran sinovial. Adapun tingkat ekskresi asam traneksamat di air susu kecil hanya
sekitar 1% dari konsenterasi puncak dari plasma. Obat ini juga dapat melewati
sawar darah plasenta namun tidak dideteksi keluat melalui air liur.
Mengukur
Efek Pemberian Obat
Bila konsenterasi obat
<10 mg/L maka tidak akan memberi dampak perubahan parameter koagulasi darah
(PT, aPTT) namun pada konsenterasi 1 – 10 mg/L akan memperpanjang thrombin
time. Adapun untuk mengukur efek pemberian asam traneksamat secara klinis dapat
dilihat dengan penurunan D-dimer dan clot lysis index.
Potensi
Interaksi Obat
Dikarenakan hanya
sedikit sekali asam tranekasamt yang metabolisme oleh tubuh, kecil kemungkinan
obat ini berinteraksi secara farmakokinetik dengan obat lain. Tetapi, interaksi
farmakodinamik dapat terjadi dan bisa menyebabkan efek yang serius.
Risiko terjadinya
trombisis akibat asam traneksamat dapat meningkat apabila digunakan bersama
dengan kontrasepsi hormon kombinasi, konsentrat kompleks faktor IX, anti-inhibitor
coagulant concentrates, trombin, batroxobin, atau haemocoagulase.
Asam traneksamat juga
dapat memperburuk efek prokoagulan dari tretinoin pada pasien dengan leukemia
promielositik akut. Selain itu, pemberian bersamaan dengan rt-PA dapat
mengurangi efikasi kedua jenis obat.
Dosis
Lazim Asam Traneksamat
Dosis oral (PO) dari
asam traneksamat adalah 1 – 1,5 g (15 – 25 mg/kg berat badan) dua sampai tiga
kali sehari. Adapun untuk intrvena (IV) pemberiannya adalah 0,5 – 1 gram dengan
injeksi pelan tiga kali sehari.
Pemberian alternatifnya
adalah pemberian awal injeksi 0,5 – 1 gram kemudian diiukti infus 25 – 50 mg/kg
kontinu selama 24 jam. Dosis ini harus dikurangi menjadi 5 – 10 mg/kg IV
apabila pasien mengalami gangguan fungsi ginjal.
Indikasi
Pemberian Asam Traneksamat
Indikasi penggunaan
asam trankesamat dapat dibagi dalam kondisi prosedur bedah, ginekologi, trauma,
dan kondisi medis.
Dari hasil penelitian
tersebut tampak bahwa pemberian asam traneksamat tidak menurunkan angka
kematian akibat perdarahan saluran cerna. Oleh sebab itu, pemberian obat ini
tidak dianjurkan secara rutin pada kasus perdarahan saluran cerna kecuali dalam
konteks uji klinis.
Toleransi,
Efek Samping, dan Kontraindikasi Pemberian Asam Traneksamat
Umumnya asam
traneksamat dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang berat jarang terjadi.
Adapun efek samping yang sering dilaporkan adalah nyeri kepala, mual, muntah,
diare, dispepsia, dismenorea, pusing, nyeri pinggang, baal, dan anemia.
Adapun kontraindikasi
pemberian asam traneksamat adalah pasien yang mendapat terapi trombin karena
meningkatkan angka trombosis. Selain itu, obat ini juga tidak boleh digunakan
apabila pasien alergi terhadap obat tersebut.
Daftar Pustaka
Bakta, I. M. 2013. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC.
Budhiarta,
A. A. G. 2007. Peran Sistem Flbrinol1s1s Pada Berbagai Proses Fisiologis dan
Patologis. Jurnal Penyakit Dalam. Vol
7(3).
Permasalahan
1.
Bagaimana farmakodinamik asam
trakeksamat untuk mengurangi prndarahan saat menstruasi?
2.
Mengapa ikatan asam traneksamat dengan
fibrin ini 6 – 10 kali lebih kuat dibandingkan dengan asam ε-aminokaproat?
3.
Berdasarkan farmakokinetik obat
alteplase, jenis sediaan yang paling cocok untuk penyakit infark myocardial
akut adalah?

Terimakasih kak yang saya ketahui asam traneksamat adalah obat generik golongan anti-fibrinolitik yang digunakan untuk membantu menghentikan pendarahan pada sejumlah kondisi, misalnya mimisan, cedera, pendarahan akibat menstruasi berlebihan, dan pendarahan pada penderita angio-edema turunan setelah membaca ini saya jdi paham mengenai dosis2 wajarnya
BalasHapusTerimaksih informasi nya, sangat bermanfaat :)
BalasHapusWah berguna sekali informasinya...
BalasHapusTerima kasih kak atas informasi mengenai fibronolisisnya😄😄
Ditunggu kak info info bermanfaat lainnya😁👍
Terimakasih atas informasinya, sangat bermanfaat 🙏
BalasHapusTerima kasih infonya kak, sekarang saya tahu apa itu hematologi dan fibrinolisis^^
BalasHapusTerimakasih info menariknya kak, sangat bermanfaat dan membantu :)
BalasHapusTerima kasih ilmunya sangat sangat membantu
BalasHapuswahh ilmunya sangat bermanfaat
BalasHapuswaah terimakasih atas informasinya,sangat bermanfaat sekali, saya jadi lebih paham mengenai fibrinolisis
BalasHapusTerimakasih, sangat bermanfaat ilmuny
BalasHapusArtikel yang sangat informatif sekali kak terima kasih
BalasHapusTerimakasih kak, dapat menambah pengetahuan kami tentang ilmu hematologi
BalasHapusTerimakasih atas informasinya kak. Ini sanggat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih kak atas ilmu yang dibagikan
BalasHapusTerimakasih banyak kak, ilmunya Sangat bermanfaat_Dwi Afriyani
BalasHapusTerimakasih kak, ilmunya sangat bermanfaat dan menambah wawasan
BalasHapusTerimakasih kak, sangat membantu sekali informasinya
BalasHapusterimakasih kak, sangat bermanfaat👍🏻
BalasHapusSangat bermanfaat..
BalasHapusinformasi yang diberikan sangat bermanfaat, terimakasih kak🙏🏻
BalasHapusSangat bermanfaat,terimakasih infonya
BalasHapusinformasi nya sangat bernamfaat kak terimakasii
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat terima kasih ilmu ya
BalasHapusTerima kasih ilmu nya kak
BalasHapusArtikelnya menarik dan dapat menambah pengetahuan
Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapusTerimakasih ilmunya sangat bermanfaat
BalasHapus