ANTIHISTAMIN II (Turunan Propilamin dan Turunan Fenotiazin)
Postingan kali ini akan melanjutkan materi pada postingan sebelumnya, jadi buat yang belum membaca materi sebelumnya bisa mampir lebih dahulu yaJ
ANTIHISTAMIN
Antihistamin
adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap
tubuh dengan jalan memblok reseptor- histamin. Antihistamin generasi pertama
telah dikaitkan dengan efek samping, terutama sedasi. Sedangkan antihistamin
generasi kedua lebih disukai dari pada obat generasi pertama, karena memiliki
efek samping yang lebih sedikit, terutama sedasi (Poluzzi et al., 2015).
Berikut adalah struktur
dari histamin dan antihistamin :
Berdasarkan strukturnya
antihistamin digolongkan menjadi:
A. Eter amino alkil (etanolamin eter)
B. Etilen diamin
C. Turunan Propilamin
D. Antihistamin
cincin trisiklik
Di materi sebelumnya
kita telah membahas turunan etilendiamin dan kolamin, kali ini kita akan
membahas materi turunan propilamin dan turunan fenotiazin.
TURUNAN
PROPILAMIN
Antihistamin golongan ini merupakan antagonis H1
yang paling aktif. Mereka tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa
pasien mengalami efek ini. Obat golongan ini memiliki daya antihistamin yang kuat.
Anggota
kelompok yang jenuh disebut sebagai feniramin yang merupakan molekul khiral. Turunan
tersubstitusi halogen dapat diputuskan dengan kristalisaasi dari garam yang
dibentuk dengan d-asam tartrat. Pada anggota yang tidak jenuh, sistem ikatan
rangkap dua aromatik yang koplanar Ar – C = CH-CH2 - N faktor penting untuk aktivitas antihistamin. Gugus
pirolidin adalah rantai samping amin tersier pada senyawa yang lebih aktif.
Pada anggota alkena (tidak jenuh), aktivitas antihistamin konfigurasi E berbeda sangat menyolok dibandingkan dengan konfigurasi Z, sebagai contoh: E-Pirobutamin sekitar 165 kali lebih poten dari pada Z-Pirobutamin. E-Triprolidin aktivitasnya sekitar 1000 kali lebih poten dibandingkan dengan Z-triprolidin. Perbedaan ini dikarenakan jarak antara amina alifatik tersier dengan salah satu cincin aromatik sekitar 5-6 Ao, yang jarak tersebut diperlukan dalam ikatan sisi reseptor.
Beberapa turunan propilamin antara lain :
1.Feniramin
maleat; Avil ; Trimeton; Inhiston maleat
Berupa garam
yang berwarna putih dengan sedikit bau seperti amin yang larut dalam air, dan
alkohol.Feniramin maleat merupakan anggota seri yang paling kecil potensinya
dan dipasarkan sebagai rasemat. Dosis lazim : 20 – 40 mg, sehari 3 kali
2.
Klorfeniramin maleat ; Chlortrimeton maleat;
CTM ; Pehachlor
Berupa puder
kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan kloroform. Mempunyai pKa 9,2 dan
larutannya dalam air memounyai pH 4-5. Klorinasi ferinamin pada posisi para
dari cincin fenil memberikan kenaikan potensi 10 x dengan perubahan toksisitas
tidak begitu besar. Hampir semua aktivitas antihistamin terletak pada
enantiomorf dektro. Dektro-klor dan brom feniramin lebih kuat daripada levonya.
3.
Dekstroklorfeniramin maleat = Polaramine maleat
Merupakan
enantiomer klorfeniramin yang memutar kekanan. Isomer ini aktivitas
anti histaminnya paling dominan dan mempunyai konfigurasi S yang super
imposable pada konfigurasi S enantiomorf karbinoksamin levorotatori yang lebih
aktif.
4.Bromfeniramin
maleat = Dometane maleat
Kegunaan
sama dengan klorfeniramin maleat senyawa ini mempunyai waktu kerja yang panjang
dan efektif dalam dosis 50 x lebih kecil daripada dosis tripelenamin.
5. Dekstrobromfeniramin maleat = Disomer
Aktivitasnya
didominasi oleh isomer dekstro, dan potensinya sebanding.
Turunan
Propilamin yang tidak jenuh
1. Pirobutamin
fosfat USP; Pyronil
fosfat; (E)-1-[4-(4-Klorofenil)-3-fanil-2-butenil]pirolidin
difosfat.
Berupa
serbuk kristal putih yang larut dalam air panas sampai 10 %. Garam fosfatnya
lebih mudah diabsorbsi daripada garam HCl nya
2. Tripolidin HCl USP; Actidil HCl
. (E)-2-[3-(1-pirrollidinil)-1-p-tolil propenil)piridiimono
hidroklorida.
Berupa puder
kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan larutannya alkali terhadap
lakmus.Aktivitasnya terutama ditentukan pada isomer geometriknya dimana gugus
pirolidinometil adalah trans terhadap gugus 2-piridil. Studi
farmakologi terbaru memastikan aktivitas tripolidin yang tinggi dan keunggulan
isomer E terhadap isomer Z sebagai antagonis-H1
Pada turunan
propilamin, terdapat Chlorpheniramine atau CTM, yang mana deskripsinya sebagai
berikut :
Farmakodinamik
Mekanisme
kerja chlorpheniramine sebagai antagonis H1, adalah berkompetisi dengan aksi
dari histamin endogenus, untuk menduduki reseptor-reseptor normal H1 pada
sel-sel efektor di traktus gastrointestinal, pembuluh darah, traktus
respiratorius, dan beberapa otot polos lainnya. Efek antagonis terhadap
histamin ini akan menyebabkan berkurangnya gejala bersin, mata gatal dan berair,
serta pilek pada pasien.Chlorpheniramine maleat memiliki efek antikolinergik,
dan sedatif ringan.
Diperkirakan
bahwa mekanisme antihistamin obat ini, juga memiliki efek antiemetik,
antimotion sickness, dan antivertigo, berhubungan dengan kerja obat dalam
memengaruhi antikolinergik pusat. Obat antagonis H1 klasik, dapat menstimulasi
dan mendepresi susunan saraf pusat. Chlorpheniramine yang digunakan secara
topikal, dapat meredakan pruritus.
Farmakokinetik
Farmakokinetik
chlorpheniramine maleat adalah sebagai berikut:
Absorpsi
Obat chlorpheniramine
diabsorpsi baik setelah konsumsi per oral. Bioavailabilitas obat sekitar 25‒50%.
Konsentrasi puncak tercapai dalam waktu 2‒3 jam. Masa kerja obat adalah sekitar
4‒6 jam.
Metabolisme
Chlorpheniramine
terutama dimetabolisme di hepar, melalui enzim sitokrom P450 (CYP450).
Antihistamin H1 merupakan salah satu golongan obat yang menginduksi enzim
mikrosomal hepatik, dan dapat memfasilitasi metabolismenya sendiri.
Distribusi
Sekitar 72% chlorpheniramine
dalam plasma darah terikat protein.
Eliminasi
Waktu paruh obat dalam
plasma darah, bervariasi sekitar 12‒15 jam, hingga mencapai 27
jam. [2] Waktu paruh dapat berdurasi sekitar tiga kali lebih lama
daripada efek terapeutiknya. Sebagian besar chlorpheniramine dikeluarkan
oleh tubuh, melalui urine.
Mekanisme
kerja
Chlorpheniramine bekerja dengan
menghambat zat histamin yang diproduksi oleh tubuh selama reaksi alergi terjadi
dan dapat membantu mengeringkan beberapa cairan tubuh seperti mata dan hidung
yang berair.
TURUNAN
FENOTIAZIN
Fenotiazin,
disingkat PTZ , adalah senyawa organik yang memiliki rumus
S (C 6 H 4 ) 2 NH dan berhubungan dengan senyawa
heterosiklik kelas tiazin . Derivatif fenotiazin sangat
bioaktif dan memiliki penggunaan luas serta sejarah yang kaya. Fenotiazin
adalah prototipe struktur timbal farmasi dalam kimia obat.
Fenotiazin
antipsikotik diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yang berbeda sehubungan
dengan substituen pada nitrogen: senyawa alifatik (mengandung
kelompok asiklik ), "piperidin"
(mengandung kelompok yang berasal dari piperidin), dan piperazin
(mengandung substituen yang berasal dari piperazine ). Berikut
pengelompokkannya dalam tabel :
Antihistamin trisiklik
pertama kali yang poten adalah fenotiazin ( Y = S dan X = N) dan mengandung dua
atau tiga atom karbon menghubungkan rantai alkil diantara nitrogen fenotiazin
dan amina alifatik. Mereka berbeda dari turunan fenotiazin antipsikotik yang
mana biasanya panjang rantai tiga atom karbon dan tidak bercabang dan hilangnya substitusi dalam cincin aromatik. Disamping
aktivitas antihistamin yang bermanfaat, kebanyakan mempunyai aksi sedatif dan durasinya lama. Penggunaan lain
termasuk pengobatan nausea dan vomiting dihubungkan dengan anestesi dan untuk
mabuk perjalanan. Promethazine merupakan suatu tipe fentotiazin dari
antihistamin yang biasanya dikombinasi dengan penekan batuk.
Beberapa turunan
fenotiazin :
·
Prometazin
Hidroklorida USP ; Phenergan HCl; (±)-10-(2-dimetil-aminopropil) fenotiazin
monohidroklorida
Garam ini berupa serbuk
kristalin berupa kuning muda yang larut dalam air, alcohol dan kloroform. Selain mempunyai aktivitas
sebagai antihistamin, senyawa ini juga mempunyai efek antiemetik, serta
memperkuat kerja obat analgetik dan
sedatif. Memperpanjang rantaisamping dan substitusi gugus lipofilik pada posisi 2 cincin aromatik
menghasilkan senyawa dengan aktivitas antihistamin yang menurun dan menaikkan
sifat psikoterapetik. Dipakai juga untuk pemakaian lokal karena mempunyai efek anestesi lokal.
·
Trimeprazin
Tartrat USP ; Temaril tartrate; (±) -
10-(3-dimetilamino-2-metilpropil) feno-tiazin tartrat
Berupa serbuk kristal
putih yang mudah larut dalam air dan
alkohol. Aksi antihistaminnya sekitar 1,5 – 5 kali prometazin. Selain itu juga
mempunyai aksi antipruritik.
·
Metdilazin
Hidroklorida USP; Tacaryl Hydrochloride ;
(±)-10-[(1-metil-3-pirolidinil) metil]
fenotiazin monohidroklorida
Berupa serbuk kristalin
kehitaman dengan bau sedikit karakteristik. Aktivitasnya sama dengan metdilazin
dan diberikan secara oral untuk efek antipruritik. Absorbsi obat dalam saluran
cerna cepat, kadar darah tertinggi dicapai 30 menit setelah pemberian oral.
Hubungan struktur
antagonis H1turunan fenotiazin dijelaskan sebagai berikut :
a.
Prometazin, merupakan antihistamin H1dengan
aktivitas cukupan dengan masakerja panjang.
b.
Metdilazin
c.
Mekuitazin. Antagonis H1yang kuat dengan
masa kerja panjang dan digunakanuntuk memperbaiki gejala alergi
d.
Oksomemazin, mekanismenya sama seperti
mekuitazin
e.
Pizotifen hydrogen fumarat, sering
digunakan sebagai perangsang nafsu makan.
Pada obat promethazine
deskripsinya sebagai berikut :
Promethazine
adalah obat golongan antihistamin yang digunakan untuk mencegah rasa
mual karena mabuk perjalanan. Obat ini umumnya tersedia dalam bentuk sirop yang
juga digunakan untuk menangani beberapa kondisi, seperti:
-
Mengatasi gangguan tidur atau insomnia.
-
Menangani reaksi alergi yang
timbul akibat pajanan debu, gigitan serangga, serbuk sari, dan bulu binatang.
-
Obat ini bekerja dengan cara menghambat
histamin untuk meredakan reaksi alergi, serta mempengaruhi asetilkolin dan
bagian tertentu pada otak untuk meredakan mual, nyeri, dan memberi efek
penenang.
Dosis
Obat
Dosis
obat promethazine berbeda-beda untuk setiap pasien. Berikut ini adalah dosis
umum penggunaan obat promethazine untuk beberapa kondisi:
Kondisi: Alergi
Oral
Dewasa: 25 mg sekali pada malam hari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 25 mg, 2
kali sehari jika diperlukan. Untuk jangka panjang, dosis yang dapat dikonsumsi
adalah 10-20 mg, 2-3 kali sehari.
Anak-anak usia 6-10 tahun: 10-25 mg, sekali minum atau dibagi 2 kali sehari.
Anak-anak usia 2-5 tahun: 5-15 mg, sekali minum atau dibagi 2 kali sehari.
Farmakologi
Promethazine,
turunan fenotiazin, secara struktural berbeda dari fenotiazin neuroleptik ,
dengan efek yang serupa tetapi berbeda. Ia bertindak terutama sebagai antagonis kuat
dari reseptor H 1 (antihistamin) dan antagonis reseptor
mACh moderat (antikolinergik), dan juga memiliki afinitas lemah
hingga sedang, dimana ia juga bertindak sebagai antagonis di semua lokasi.
Penggunaan lain dari promethazine adalah sebagai anestesi lokal ,
dengan memblokir saluran natrium (Indijah dan Fajri, 2016).
Farmakodinamik
Sebagai obat
penenang.
Untuk pra operasi obat
penenang dan untuk mengatasi pasca narkotikamual.
Sebagai antialergi obat
untuk memerangi hay fever (alergi rhinitis),untuk mengobati reaksi alergi dapat
diberikan sendiri atau dalamkombinasi dengan oral dekongestan seperti
pseudoefedrin.
Sebagai tambahan
pengobatan untuk anaphylactoid kondisi (IM/IV ruteyang disukai).
Bersama dengan kodein
atau dekstrometorfan terhadap batuk.
Sebagai mabuk atau
mabuk laut ketika digunakan dengan obat efedrinatau pseudoefedrin.
Farmakokinetik
a. Mekanisme
Derivat
Fenotiazin dengan efek antidopaminergik: blocker reseptordopamin mesolimbik dan
reseptor alfa-adrenergik di otakEfek antihistamin adalah blocker reseptor
H1
b. Absorpsi
Bioavailabilitas: 25% (PO/PR)Onset (efek antihistamin): 3-5 menit (IV), 20
menit (IM/PO/PR) Puncak waktu serum: 6,7-8,6 jam (supositoria);
4,4 jam (sirup)Durasi: PO (motion sickness) 4-6 jam, iv (mual muntah) 4-6
jam,sampai 12 jam
c. Distribusi
Protein terikat: 93%
Vd: 98 L/kg (sirup), 17-227 L/kg (kisaran)
d. Metabolisme
Dimetabolisme oleh P450 hati enzim CYP2D6Waktu paruh: 10 jam (im), 9-16 jam
(iv), 16-19 jam (sirup)Ekskresi: urin (utama), feses (minor)
e. Waktu paruh
Setelah pemberian oral atau parenteral, AH1 diabsorpsi
secara baik. Efeknya timbul 15-30 menit setelah pemberian oral dan maksimal setelah
1-2 jam. Lama kerja AH1 setelah pemberian dosis tunggal kira-kira 4-6 jam
f. Bioavailabilitas
Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada
limpa,ginjal, otak, otot dan kulit kadarnya lebih rendah. Tempat
utama biotransformasi AH1 adalah hati, tetapi dapat juga pada paru-paru dan
ginjal. AH1 dieksresi
melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya.
Efek
Samping
Sama
seperti obat-obat lain, promethazine juga berpotensi menyebabkan efek samping.
Beberapa efek samping yang mungkin timbul setelah mengonsumsi obat ini adalah:
·
Pandangan kabur
·
Mengantuk
·
Mulut kering
·
Sakit kepala
Permasalahan
1.
Berdasarkan penelitian pada deksklorfeniramin
maleat (DCM) adalah antihistamin turunan propilamin yang merupakan isomer
dextro dari klorfeniramin maleat dan dua kali lebih kuat daripada campuran
rasemiknya. Kenapa demikian?
2.
Apa latar belakang penelitian diinovasikannya
turunan propilamin yaitu fenilramin diinovasikan menjadi klorfenilramin?
3.
Ditemukan penelitian tentang Studi mikrobial
terkait bakteri pendegradasi fenotiazin.
Kenapa fenotiazin perlu dilakukan degradasi?
Daftar Pustaka
Indijah,
S. W. Dan P. Fajri. 2016. Farmakologi,
Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Poluzzi,
E., C. Piccinni, E. Raschi. 2015. Phytoestrogens In Postmenopause: The State Of
The Art From A Chemical, Pharmacological And Regulatory Perspective. Journal Medicinal Chemistry. 21(4) : 417-436.




terimakasih dian, materinya sangat bermanfaat. Izin menjawab pertanyaan nomor 3. Dalam jurnal yang di buat oleh Yetti., A.Thontowi dan Yopi tahun 2016 pada Jurnal Kelautan dan Perikanan, peneliti melakukan studi mikrobial yang terkait bakteri pendegradasi fenotiazin karena senyawa ini memiliki banyak turunan yang dapat digunakan untuk aplikasi kesehatan terutama dibidang kanker. Dan senyawa fenotiazin yang ditemukan dialam dapat ditemukan pada minyak mentah sebagai antioksidan dan penstabil molekul. sehingga diharapkan dapat ditemukan turunan senyawa fenotiazin liannya yang diharapkan lebih baik lagi.
BalasHapusTerima kasih Elen atas jawabannya
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerimakasih ilmunya sangat bermanfaat. Izin menjawab pertanyaan no 1. Menurut literatur yang saya baca Karena Deksklorfeniramin merupakan
BalasHapusjenis obat yang menghambat aksi farmakologis histamin secara kompetitif (antagonis histamin reseptor H1) dan merupakan antihistamin generasi pertama
yang banyak direkomendasikan. Obat ini juga kebanyakan digunakan untuk penanganan gejala-gejala rhinitis alergi dan urtikaria
Waah ilmu nya sangat bermanfaat sekali,saya jadi lebih mengerti. Thankyouu yaaa☺️
BalasHapusTerimakasih ilmu ya sgt bermanfat sekali
BalasHapusInformasinya bermanfaat terimakasih
BalasHapusTerimakasih ilmunya sangat bermanfaat😊
BalasHapusTerimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapuswaw saya sangat terbantu
BalasHapus